Minggu, 21 Agustus 2011

Istighfar, Pesan Para Nabi (seri - Istighfar -)


Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat”. (Hud: 3)

Surat Hud yang pernah membuat Abu bakar terkejut saat melihat rambut Rasulullah saw beruban yang dijawab oleh Rasulullah dengan sabdanya, “Surat Hud dan saudara2nya telah membuat rambutku beruban”, ternyata sarat dengan perintah beristighfar yang disampaikan melalui lisan para nabiyuLlah dari Hud as, sholih dan syu’aib as.

Tercatat ada empat ayat di dalam surat ini yang menyebut perintah beristighfar, yaitu pertama ayat 3 di atas, ayat 52, 61, dan 90. Bahkan yang menarik, bahwa secara korelatif, perintah beristighfar pada ayat-ayat tersebut diawali dengan perintah menyembah dan mengabdi semata-mata kepada Allah, seperti dalam surat Hud: 2 misalnya, “Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya” (Hud: 2).

Betapa tinggi nilai perintah beristighfar sehingga selalu berdampingan dengan perintah beribadah kepadanya. Sehingga merupakan satu kewajiban sekaligus kebutuhan seorang hamba kepada Allah swt karena secara fithrah memang manusia tidak akan bisa mengelak dari melakukan dosa dan kesalahan sepanjang hidupnya. Peluang ampunan ini merupakan anugerah rahmat yang terbesar bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Terkait dengan hal ini, kebiasaan beristighfar mereflesikan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan pengakuan akan Ke-Maha Pengampunan Allah swt. Istighfar juga merupakan cermin dari sebuah akidah yang mantap akan kesediaan Allah membuka pintu ampunannya sepanjang siang dan malam. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah senantiasa membuka tanganNya di siang hari untuk memberi ampunan kepada hambaNya yang melakukan dosa di malam hari, begitu pula Allah swt senatiasa membuka tangan-Nya di malam hari untuk memberi ampunan bagi hamba-Nya yang melakukan dosa di siang hari”.

Catatan lain yang bisa dikaji adalah bahwa perintah beristighfar di dalam Al-Qur’an juga selalu beriringan dengan perintah bertaubat,” Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir Al-Munir mengemukakan rahasia penggabungan perintah beristighfar dan bertaubat pada kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an bahwa tidak ada jalan untuk meraih ampunan Allah swt melainkan dengan menunjukkan perilaku dan sikap “taubat” yang diimplementasikan dengan penyesalan akan kesalahan masa lalu, melepas ikatan-ikatan (jaringan) kemaksiatan dalam segala bentuk dan sarananya serta tekad yang tulus dan jujur untuk tidak mengulangi kembali perbuatan-perbuatan dosa di masa yang akan datang. Dalam kaitan ini, taubat merupakan penyempurna dari istighfar seseorang agar diterima oleh Allah swt.

Secara aplikatif, kebiasaan beristighfar sudah dicotohkan oleh Rasulullah saw. Tercatat dalam sebuat riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan di riwayat Imam Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali (Bukhari Muslim). Pelajaran yang diambil dari prilaku Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini berlangsung senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali.

Para malaikat yang jelas tidak pernah melanggar perintah Allah justru senantiasa beristighfar memohon ampunan untuk orang-orang yang beriman sebagai sebuah pelajaran yang berharga bagi setiap hamba Allah yang beriman, “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mu’min: 7)

Berdasarkan kajian terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang istighfar, paling tidak terdapat empat keutamaan dan nilai dari amaliah istighfar dalam kehidupan seorang muslim:

1. Istighfar merupakan cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Ali Imran: 135)

2. Istighfar merupakan sumber kekuatan umat. Kaum nabi Hud yang dikenal dengan kekuatan mereka yang luar biasa, masih diperintahkan oleh nabi mereka agar senantiasa beristighfar untuk menambah kekuatan mereka. “Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (Hud: 52). Bahkan Rasulullah dalam salah satu haditsnya menegaskan bahwa eksistensi sebuah umat ditentukan diantaranya dengan kesadaran mereka untuk selalu beristighfar, sehingga bukan merupakan aib dan tidak merugi orang-orang yang bersalah lantas ia menyadari kesalahannya dengan beristighfar memohon ampunan kepada Allah swt.

3. Istighfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah swt. Ibnu Katsir ketika menafasirkan surat Al-Anfal: 33 “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” menukil riwayat dari Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelemat bagi umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat, yaitu istighfar”. Bahkan Ibnu Abbas menuturkan bahwa ungkapan istighfar meskipun keluar dari pelaku maksiat dapat mencegah dari beberapa kejahatan dan bahaya.

4. Istighfar akan memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rizki dan memelihara seseorang. Dalam konteks ini, Ibnu katsir menafsirkan suarat Hud : 52 dengan menukil hadits Rasulullah saw yang bersabda, “Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”. (Ibnu Majah)

Demikianlah, pesan yang disampaikan oleh para nabiyuallah kepada kaumnya sebagai salah satu solusi dari permasalahan mereka. Tentu istighfar yang dimaksud tidak hanya sekedar ucapan dengan lisan “astaghfirullah”, tetapi secara aplikatif sikap waspada, mawas diri dan berhati-hati dan bersikap dan berperilaku agar terhindar dari kesalahan. Dan jika terjermus ke dalam kemaksiatan segera sadar dan mampu bangkit dari kesalahan dengan bersungguh-sungguh bertaubat dalam arti menyuguhkan pengabdian dan karya yang lebih bermanfaat untuk umat. Allahu A’lam.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2007/istighfar-pesan-para-nabi/

Jumat, 19 Agustus 2011

Meraih Puncak Prestasi di Bulan Ramadhan

Meraih Puncak Prestasi di Bulan Ramadhan

oleh: Wildan Hasan
“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Qs Al-Baqarah 183).
Suatu ketika direktur perusahaan di tempat anda bekerja memanggil anda ke kantornya. Ia memberitahukan bahwa berkat prestasi kerja anda selama ini, anda akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang prestisius. Namun dengan satu syarat, pekan depan anda harus mengikuti seleksi kerja satu bulan penuh. Seleksi yang setelah anda tanyakan ternyata relatif ringan bahkan dengan bonus yang menggiurkan. Bagaimana tidak hanya dengan melakukan kerja yang standar anda akan dapat bonus 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Ternyata itu belum seberapa, anda pun dijanjikan jika berhasil melewati seleksi tahap akhir dengan predikat sangat memuaskan maka anda akan diberikan jaminan kebutuhan hidup selama 83 tahun lebih. Wow! Sangat menggiurkan.
Anda pun jelas, sangat menunggu-menunggu waktu itu tiba, anda begitu hanyut dalam kerinduan penantian. Anda merasa waktu berjalan sangat lamban, lebih lamban dari siput di pinggir sawah pak tani. Anda heran melihat jarum jam seolah berdetak malas-malasan, padahal baterainya baru anda ganti dua hari kemarin. Aaah…
Pun perbekalan telah anda siapkan sepulang dari kantor direktur anda, bahkan telah anda cek berulang-ulang khawatir ada yang terlewat dari catatan anda. Skill kerja anda yang telah lama menjadi decak kagum partner kerja anda, makin anda asah jauh lebih berkilat daripada zamrud dari India sekalipun. Bahan-bahan dan petunjuk kerja telah anda pelajari berulang-ulang, bahkan istri anda mengira anda telah jatuh hati pada buku-buku itu dan menjadikannya istri muda anda. Amboi, kerinduan memang memabukkan.
Pembaca yang dirahmati Allah,
Kiranya sudah mulai pahamkah anda akan saya bawa ke mana arah cerita ini? Tentu sebagai muslim yang cerdas anda akan sontak menjawab “Inilah Ramadhan yang akan kita jumpai saat ini.”
Ya, inilah Ramadhan. Bulan yang selain gaji tetap, akan didapatkan juga bonus 10 hingga 700 kali lipat bahkan bisa jauh lebih besar daripada itu. Bahkan jika prestasi seleksi amalan di bulan ini konsisten sampai akhir, maka bonus pahala 1000 bulan (83 tahun lebih) bisa anda raih.
Bulan yang telah Allah informasikan kepada anda 1500 tahun yang lalu, tidak seperti direktur anda yang memberikan informasi hanya sepekan sebelum hari H. Jelas sekali persiapan dan perbekalan anda akan jauh lebih paripurna. Aneh nian, jika anda masih ragu dan gagap saat Ramadhan tiba padahal anda punya waktu 11 bulan untuk bersiap-siap menyambutnya. Bahkan anda sudah mengetahuinya sepanjang hayat anda.
Lihatlah para shahabat Rasulullah SAW, manusia-manusia langit itu luar biasa gembira menyambut Ramadhan dan luar biasa pilu ditinggal Ramadhan. Mereka berharap setahun itu bulannya adalah Ramadhan semua. Layaknya anda yang begitu meluap kegembiraan saat bulan seleksi itu tiba menghampiri anda. Kegairahan memuncak untuk menelusuri satu ibadah yang Allah berkenan memberikan pahala melimpah-ruah secara langsung.
Allah menyeleksi manusia, kira-kira manusia macam apakah yang akan sanggup melaksanakan aturannya yang ini. Ternyata Allah mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman”, duhai berbahagialah orang yang beriman kepada Allah karena mereka lulus seleksi, yang bukan hanya mengaku Islam, karena predikat muslim saja tidak cukup layak mengikuti lomba super hebat di bulan Ramadhan. Mereka tidak akan mampu, akan kepayahan…
Mereka, yang hanya Islam saja, sebagaimana sudah Rasulullah ingatkan “Betapa banyak orang yang shaum namun tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Mereka tidak tahan untuk tidak makan minum, tidak tahan untuk konsisten shalat tarawih, tidak tahan berlama-lama membaca Al-Qur’an, tidak tahan untuk tidak mencaci orang lain, tidak tahan berbaik sangka kepada orang lain, tidak tahan untuk membatasi apa yang dia makan saat berbuka dan tidak tahan untuk tidak berhura-hura saat malam ‘Idul Fitri, padahal itu berpotensi menghapus seluruh pahala Ramadhan yang susah payah ia kumpulkan.
Memang nyata, kita belum seperti para shahabat Rasulullah SAW, mungkin anda atau saya bahkan merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan. Atau yang lebih celaka, justru khawatir dan takut menjalani Ramadhan. Na’udzubillah. Yang menyambut gembira Ramadhan adalah orang beriman, yang menyambut dengan ekspresi datar agak berat mungkin fasik, yang malah takut dan khawatir bisa jadi munafik atau bahkan kufur.
Baiklah, ternyata bagi yang merasa berat, Allah telah sebutkan bahwa kewajiban shaum itu “telah diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian,” kalau umat-umat terdahulu saja sudah diwajibkan shaum lalu kenapa kita harus merasa berat seolah-olah hanya kita saja yang diberikan ‘beban’. Maka bagi siapa saja yang merasa terbebani oleh kewajiban shaum, sungguh ia hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja tanpa mendapatkan saripati dari ibadahnya sedikitpun. Sia-sia!
Orang yang beriman dan bersabar tanpa terbebani akan dengan mudah mendapatkan saripati ibadah shaum Ramadhan sebagaimana target shaum itu sendiri yakni “supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa,” kata Allah. Takwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia di sisi-Nya adalah insan yang bertakwa.
....Takwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia di sisi-Nya adalah insan yang bertakwa...
Takwa adalah konsistensi iman dan amal shaleh. Seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah: “Nasihatilah aku yang tidak akan aku minta lagi kepada orang lain.” Rasul menjawab: “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, lalu konsistenlah kamu dalam keimanan itu.” Iman plus konsistensi adalah takwa. Maka ciri orang yang sukses meraih predikat takwa dari ibadah Ramadhan adalah konsistensi ibadahnya di bulan-bulan lain sama seperti yang dilakukannya di bulan Ramadhan.
Shaum Ramadhan adalah start bukan final, adalah awal bukan akhir dari perjalanan ibadah sepanjang hayat kita. Maka tidak ada hari kemenangan bagi yang melaksanakan ibadah Ramadhan dengan biasa-biasa saja, yang asalkan tidak makan, minum dan bersenggama. Sementara hewan pun jika hanya sekedar itu mampu melakukannya.
Shaum Ramadhan adalah ibadah yang berfungsi sebagai charger untuk on-nya ibadah di sebelas bulan berikutnya. Adalah mengerikan, orang berduyun-duyun di akhir Ramadhan merayakan hari kemenangan, sementara mereka sudah tidak lagi berpuasa. Kembali ke kulit palsunya yang mereka tahu bahwa itu palsu. Memang benar, orang paling bodoh adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu namun sok tahu seolah-olah dirinya tahu. Benarlah, hanya yang beriman dan bersabar (ihtisaban) dalam ibadah Ramadhan lah yang akan diampuni dosa masa lalunya.
Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan ditentukan oleh sebelas bulan berikutnya. Tarawihnya di bulan Ramadhan berlanjutkah dalam tahajud di bulan berikutnya, tilawah Qur’annya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, zakatnya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, dermawan dan pemaafnya di bulan Ramadhan berlanjutkah atau kembali menjadi bakhil dan pemberang selepas bulan itu?
Jika hal-hal di atas tidak terwujud, jangan salahkan jika ibadah kita tidak membawa dampak positif. Allah sendiri mencela orang shalat sebagai pendusta agama, yang shalat dalam keadaan lalai. Saat seharusnya shalat membuahkan proteksi atas perbuatan keji dan mungkar, namun anda, saya dan kita masih menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.
Bahkan Ramadhan kita kali ini, seharusnya tidak lagi menyantuni orang miskin yang sama, yang dulu kita serahkan zakat kita kepadanya. Tidak lagi, karena orang miskin itu tidak mau menerimanya, ia telah merasa mampu dari hasil pemberdayaan ekonomi melalui zakat kita di Ramadhan sebelumnya.
Mampukah Ramadhan kita kali ini membuahkan hasil, paling tidak membuat petugas pembagi zakat menangis tersedu-sedu karena mereka ditolak dari pintu ke pintu, sebagaimana petugas pembagi zakat di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz. Semua menutup pintunya karena telah berdaya, harga dirinya terangkat untuk tidak terus menerus mengulurkan telapak tangan.
Sayangnya kita belum, bahkan kita secara tidak langsung melestarikan kemiskinan. Betapa tidak, kita berzakat ke orang yang sama selama bertahun-tahun. Membuat mereka haqqul yaqien bahwa zakat adalah rezeki pokoknya tanpa harus berpeluh-peluh.
Marilah kita maksimalkan seluruh kemampuan kita; mental, fisik, ilmu dan harta untuk ibadah di bulan Ramadhan yang mungkin kita tidak akan menjumpainya lagi di tahun depan.
Allahumma sallimnaa Ramadhan, wa sallim Ramadhana lanaa mutaqabbalan

Celaka! Mati Berjihad, Rajin Sedekah & Baca Al-Quran, Tapi Masuk Neraka

Celaka! Mati Berjihad, Rajin Sedekah & Baca Al-Quran, Tapi Masuk Neraka

Kita pasti bertanya, kok bisa, seorang hamba yang mati di medan jihad, berilmu dan membaca al-Qur’an, serta dikenal karena kedermawanannya, tapi pada akhirnya terlempar ke neraka. Apa sebabnya?
Abu Hurairah meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.
Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?”               Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.”          Allah berkata, “Kamu bohong.Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Sang Pemberani.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca al-Qur’an didatangkan dihadapan Allah. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.                                                                        Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?”              Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca al-Qur’an demi mencari ridhamu.”
Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca al-Qur’an.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.
Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?”              Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.”                                      Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.
Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalag manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)
Berlatih Ikhlas
Dari hadits riwayat Muslim di atas, maka keikhlasan dalam beramal menjadi hal yang sangat penting. Betapa pun seorang hamba mati di medan jihad, berilmu dan membaca al-Qur’an, bahkan dikenal karena kedermawanannya, tapi jika tidak disertai  dengan keikhlasan, maka menjadi sia-sialah amalnya.
Ternyata kata ikhlas, bukan karena bibir ini berucap ikhlas. Atau bahkan tidak berucapkan ikhlas. Boleh jadi, tanpa kita sadari, keikhlasan kita bercampur dengan riya' dan ingin menunjukkan bahwa kita adalah seorang yang pemberani, yang berilmu, dan dermawan.
Orang bijak berkata, “Orang yang ikhlas adalah orang  yang menyembunyikan kebaikannya, seperti dia menyembunyikan kejelekannya. Keikhlasan niat dalam amalmu lebih bermakna daripada amal itu sendiri.”
Ma’ruf al-Karkhi sampai memukul dirinya sendiri sambil berkata, “Wahai jiwa, ikhlaslah! Maka kamu akan bahagia.”
Yahya bin Mu’adz berkata, “Ikhlas adalah memisahkan amal dari cacat seperti terpisahnya susu dari kotoran dan darah.”
Yusuf bin Husain berkata, “Sesuatu yang paling mulia di dunia ini adalah ikhlas. Berapa besar kesungguhanku untuk mengeluarkan pamer dari dalam hati, namun sepertinya ia menetap di hati dalam bentuknya yang lain.”
Setiap kali Ayyub as-Sakhtiyani  berbicara, ia mengusap wajahnya sambil berkata, “Aku terserang demam.” Padahal ia takut pamer dan ujub. Dia takut kalau orang-orang berkata tentang dirinya seperti ini. Dia menangis karena takut pada Allah.
Seorang ulama mengatakan, “Jika Allah tidak suka kepada seseorang, maka Allah memberinya tiga hal da menghalanginya dari tiga hal. Pertama, Allah memberi dia teman yang saleh, namun dirinya tidak menjadi orang saleh. Kedua, Allah memberi dia amal saleh, namun dia tidak ikhlas menjalankannya. Ketiga, Allah memberi dia hikmah, namun dia tidak mempercayainya.”
Hakikat Riya
Riya' itu berasal dari kata ru’yah (melihat), sedanghkan sum’ah (ketenaran) berasal dari kata Samaa’ (mendengar). Riya’ adalah ingin dilihat orang-orang supaya mendapat kedudukan. Riya’ itu tersamar seperti jalannya semut. Termasuk riya’, yaitu orang yang berpura-pura zuhud, berjalan memaksa diri untuk bersikap tenang dan bersikap lemah-lembut.
Dalam ringkasan Ihya Ulumuddin, Imam al Ghazali menegaskan, riya itu haram dan pelakunya dibenci oleh Allah Swt. Hal itu ditunjukkan dalam QS. Al-Ma’un: 4- 6: “Maka, celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya.”
Seorang sahabat Nabi Saw bertanya, “Ya Rasulullah, dengan apa kita selamat?”                                                                      Rasulullah menjawab, ”Bila manusia tidak mengamalkan ketaatan kepada Allah swt demi mengharap pujian orang-orang.”       
Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling ditakutkan atas kamu adalah syirik kecil.”                                                         Sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?                Beliau menjawab, “Riya.”
Lalu Allah Swt berkata di Hari Kiamat ketika membalas manusia-manusia atas amal-amal mereka: “Pergilah (kamu) kepada orang-orang dulu kamu berbuat riya terhadap mereka di dunia. Lihatlah apakah kamu mendapat balasan dari mereka?”
Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Berlindunglah kamu dengan Allah dari jubbul huzun (lembah duka).                      Sahabat bertanya, “Apa itu ya Rasulullah?’                                  Nabi Saw menjawab, “Sebuah lembah di neraka Jahanam yang disediakan bagi para pembaca Al-Qur’an yang berbuat riya.”    (Diolah oleh Desastian)

Menghafal Al-Qur'an, Siapa Takut? Inilah 10 Triknya

Menghafal Al-Qur'an, Siapa Takut? Inilah 10 Triknya

Oleh: Falah Abu Ghuddah
Mahasiswa Universitas Al-Azhar dan Mahasiswa Akademi Al-‘Asyiroh Al-Muhammadiyah Kairo

Menghafal Al-Qur’an selalu menjadi idaman setiap Muslim, ia juga selalu menjadi batu pertama dalam menempuh perjalanan menuntut ilmu para ulama-ulama kita. Hal ini bisa  kita temukan dalam setiap biografi para pewaris Nabi ini. Di sisi lain, menghafal Al-Qur’an juga menjadi salah satu bagian terpenting dalam berinteraksi dengan kitab pusaka umat Islam, Al-Qur’an.
Banyak sudah tulisan yang memuat trik dan tips menghafal Al-Qur’an, mulai dari zaman para Salafus Shaleh sampai sekarang. Namun ada berapa poin yang kadang kurang dipahami oleh para penghafal Al-Qur’an, ada yang lebih mendahulukan poin-poin sekunder dibanding yang primer, begitu pula ada yang lalai terhadap hal-hal yang primer padahal itu adalah poin yang harus dimiliki oleh para penghafal Al-Qur’an.
Ada sebuah buku (minibook) menarik yang dikarang oleh salah satu penulis produktif di Mesir, DR Rajib Sirjani. Dalam bukunya Kaifa Tahfadzul Qur’an ia membahas hal-hal yang harus diperhatikan oleh para penghafal Al-Qur’an. Secara garis besar ia membuat dua pembahasan. Pembahasan pertama tentang tips-tips yang bersifat primer (asasiyah) dan tips kedua bersifat sekunder (musa’idah). Dan dalam setiap pembahasan tips ada sepuluh poin yang harus diperhatikan.
TIPS-TIPS PRIMER (ASASIYAH).
Tips ini harus dimiliki oleh para penghafal Al-Qur’an karena menjadi hal yang sangat mendasar selama menghafal.  Ada sepuluh poin yang harus dimiliki oleh para penghafal Al-Qur’an baik sebelum, sesudah atau selama ia menjalani proses menghafal Al-Qur’an.
Inilah sepuluh tips primer (asasiyah) menghafal Al-Qur'an:
1. Ikhlas
Ikhlas merupakan fondasi terpenting dalam setiap pekerjaan. Hal ini disebabkan karena siapa saja yang melakukan sebuah pekerjaan bukan karena mengharap ridha Allah maka pekerjaannya akan sia-sia saja. Ia juga akan menjadi orang yang pertama kali disidang pada hari kiamat.
Sebuah hadits dari Imam Hakim menerangkan bahwa orang yang menghafal Al-Qur’an terbagi menjadi tiga golongan; golongan yang ingin pamer, golongan yang ingin mencari makan dari hafalannya dan golongan yang memang murni karena Allah.
Ketika kita tidak bisa ikhlas secara utuh maka kita bisa menggunakan alternatif pembantu yaitu dengan memperbanyak niat yang baik seperti niat dapat memperbanyak baca Al-Qur’an, bisa bertahajjud sambil mengulang hafalan, berharap bisa meraih kemuliaan orang yang menghafal Al-Qur’an, berharap agar orang tua kita dapat diberikan mahkota pada hari kiamat, agar terjauh dari azab akhirat, agar dapat mengajarkannya kembali pada orang lain, agar dapat menjadi suri tauladan baik bagi orang Muslim atau yang non-Muslim atau niat-niat baik yang lainnya. Yang penting kita berniat karena Allah dan bukan karena dunia.
2. Keinginan yang kuat
Menghafal Al-Qur’an adalah sebuah pekerjaan yang amat mulia maka hanya orang yang benar-benar mempunyai niat yang kuatlah yang dapat mencapainya. Pekerjaan yang hebat hanya dimiliki oleh orang-orang yang hebat pula. Sama halnya ketika seluruh orang ingin masuk surga, apakah seluruh orang itu benar-benar memiliki tekad yang kuat untuk mencapainya, ternyata tidak, hanya segelintir orang bukan!
Keinginan yang kuat ini terpancar dari usaha yang ia lakukan untuk mencapainya. Dari usaha yang terus menerus inilah yang akan membuatnya menjadi sebuah kebiasaan. Dan dari kebiasaan inilah yang membuatnya terus menerus menghafal, mengulang dan mematangkan hafalannya. 
3. Mengetahui nilai menghafal Al-Qur’an
Orang yang mengetahui nilai sesuatu pasti akan berkorban apapun untuk meraihnya. Kalau manusia biasanya selalu mencurahkan seluruh usaha untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat duniawi lalu kenapa ia tidak melakukan hal yang sama untuk mencapai tujuan akhiratnya yang kekal.
Ketika kita mengetahui nilai pekerjaan yang kita lakukan maka kita akan semakin rindu untuk melakukannya. Ditambah lagi, orang yang mengetahui nilai suatu pekerjaan tidak sama dengan yang tidak mengetahuinya. Dan orang yang mengetahuinya secara global tentu tidak sama dengan yang mengetahuinya secara terperinci. Maka semakin kita mengetahui nilai pekerjaan itu lebih terperinci  tentu akan membuat kita semakin berpacu untuk menggapainya.
Ada banyak kelebihan dan keutamaan bagi orang yang menghafal Al-Qur’an baik dalam Al-Qur’an itu sendiri atau hadits Nabi. Kita juga bisa menemukannya dalam beberapa literatur baik yang berbahasa Arab seperti At-tibyan fi adabi hamalatil Qur’an karya Imam Nawawi atau yang berbahasa Indonesia.  
4. Mengamalkan apa yang ia hafal
Poin ini menjadi poin terpenting dari tujuan menghafal Al-Qur’an. Karena hafal semata tidak akan menghasilkan nilai yang berarti tanpa dibarengi dengan praktik realita. Hal inipun sudah disinggung oleh Anas bin Malik; berapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an namun Al-Qur’an malah melaknatnya.
Metode inilah yang digunakan oleh para generasi terbaik, generasi sahabat. Umar bin Khatthab telah mengajarkan kita  metode yang tokcer dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, ia tidak pernah menghafal sesuatu kecuali ia telah mengamalkannya dan ia akan pindah ke hafalan berikutnya setelah ia mengamalkannya dan begitu seterusnya.
Ali bin Abi Thalib juga pernah memprediksi bahwa nanti suatu saat akan ada sebuah kaum yang ilmu mereka tidak lebih dari kerongkongan saja karena apa yang mereka lakukan berbeda dengan apa yang mereka ketahui. Bukankah orang yang mengamalkan apa yang ia tahu akan Allah berikan padanya hal-hal yang belum ia tahu.
5. Meninggalkan dosa dan maksiat
Hati yang sering berbuat maksiat tidak akan bisa menampung cahaya Al-Qur’an. Semakin ia bermaksiat maka akan mempengaruhi hatinya. Ketika hatinya semakin keruh maka lemahlah kemampuannya dalam menghafal Al-Qur’an yang suci.  Karena dosa ibarat sebuah titik, semakin banyak ia bermaksiat dan berdosa maka akan semakin banyaklah titik hitam dalam hatinya, namun ia bisa dihapus dengan bertaubat dan memperbanyak istighfar.
Imam Syafi’i juga pernah mengalami hal ini kemudian bertanya kepada Imam Waqi’ yang akhirnya beliau membuat dua syair yang sangat terkenal, Syi’ir Syakautu ila Waqi’. Seorang Tabi’in (Dohhak bin Mazahim) pernah berkata tak ada seorang pun yang belajar Al-Qur’an kemudian ia lupa kecuali karena dosa yang ia perbuat. Dan melupakan Al-Qur’an termasuk musibah terbesar.
6. Berdoa
Berdoa merupakan senjata orang Islam. Karena ia yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari doanya, ia selalu yakin bahwa Allah selalu mengabulkan doa mereka baik secara langsung, ditunda waktunya atau diganti dengan yang lebih baik. 
Ada beberapa waktu yang tepat dalam berdoa seperti waktu sahur, usai shalat, sepuluh akhir Ramadhan, apalagi ketika kita sendiri dalam keheningan malam, ketika hujan, dalam perjalanan dan lain-lain. Selain itu ada beberapa tempat yang dapat mempercepat terkabulnya doa kita seperti di tanah haram (Mekkah dan Medinah), Hajar Aswad, Ka’bah, Raudhah dan lain-lain.
7. Pemahaman yang benar
Orang yang paham arti apa yang ia hafal akan lebih mudah menghafalnya dibanding mereka yang tidak paham. Dalam membantu pemahaman, kita bisa menggunakan beberapa alternatif seperti Al-Qur’an terjemah, tafsir yang simple atau yang lebih terperinci kajiannya.
8. Membaca dengan tajwid
Membaca Al-Qur’an dengan tajwid akan sangat membantu hafalan. Orang yang menghafal tanpa tajwid akan sangat sulit untuk dibenarkan ketika ia sudah selesai menghafal karena ia sudah terbiasa membaca dengan bacaannya yang salah. Apalagi orang yang membaca dengan tajwid ternyata mendapat pahala yang lebih besar. 
Yang harus diperhatikan dalam belajar tajwid adalah harus mengambil dari seorang guru yang sudah mantap hafalan dan bacaannya, dan tidak cukup belajar dari buku saja. Setelah belajar dari seorang guru yang hebat mungkin dia bisa menggunakan sarana pembantu seperti mendengar dari kaset atau komputer dan lain-lain. 
9. Terus membaca Al-Qur’an
Orang yang sering membaca Al-Qur’an akan lebih banyak mendapat pahala dan di sisi lain hal itu akan mempermudah dan memperkuat hafalannya. Karena terus menerus membaca Al-Quran akan memindahkan daya ingatannya dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Biasanya para sahabat menghatamkan Al-Qur’an dalam seminggu. Hanya sebagian yang kurang dari itu dan hanya sebagian kecil yang lebih dari itu.
10. Membaca dalam shalat 
Bagi yang berkesempatan menjadi imam maka ia dapat langsung mengulang hafalannya. Namun bagi yang tidak menjadi imam ia dapat melakukannya ketika shalat malam, usai shalat isya, shalat dhuha atau shalat sunnah lainnya. [voa-islam.com]

Kenapa belum nikah juga? (seri cerpen)

"Kebahagiaan adalah bertemunya harapan dan realita pada momen yang tepat."
Ya, kira-kira begitulah kata (sok) bijak yang keluar dari pikiran ini, betapa tidak bahagia, sudah menuntun motor beberapa puluh meter, di bawah sengatan matahari, sendirian lagi... mudah-mudahan didepan segera menemukan tukang tambal ban.., dan alhamdulillah, akhirnya dapet juga. Bahagia bener…! Sebaliknya masalah adalah tak selarasnya, antara harapan dan realita, seorang istri mengharap suaminya jujur, tapi ternyata sang suami malah berbohong, masalah!, pebisnis inginnya omzet bertambah, kenyataannya malah stagnan, itu juga masalah. Jadi kebahagiaan itu sebenarnya tak mesti rumit, megah atau luar biasa…, baru akan bahagia kalau sudah memiliki ini dan itu, padahal hampir setiap hari kita bisa merasa bahagia, kalau kita peka, bahwa ternyata ada banyak realita yang sesuai harapan. Pas kebelet, ingin segera kebelakang…, alhamdulillah… wc tersedia, bahagia..!, pas haus, ingin minum, alhamdulillah… air tersedia, bahagia juga, dst.  Tak ada yang salah sih, menargetkan ini dan itu, sebagai parameter kebahagiaan, tapi jangan sampai mengabaikan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang senantiasa hadir setiap hari.
“bang.., tambal..,” sambil saya standar dua kan motornya. Selanjutnya, giliran si tukang tambal memainkan perannya. Mencongkel, menarik, seperti sudah bekerja dibawah sadar, tanpa proses berfikir lagi. Setelah ban dalam dikeluarkan, lalu dia masukan kedalam ember, untuk apa? untuk mencari dimana lubang bocornya. Kalau ada yang bocor, pasti akan mengeluarkan gelembung di ember.
"nih mas, bocornya ada 2", jelasnya, "mesti diganti ban dalamnya", perintahnya…
"ga bisa ditambal dulu bang..?", tanya saya (kan lumayan selisih harganya)
"bisa, tapi dari pada nanti bocor lagi, bisa kecelakaan!", jawabnya.., waduh, nyerah deh, posisi saya sudah lelah, apalagi strategi marketing "nakut-nakutin" nya yang tampak lebih menyeramkan dengan wajah perseginya.
"ya udah bang…, ganti aja…"

Sambil menunggu proses penggantian ban, biasa…, pikiran mulai menerawang.., "pilosofi tambal ban, cari lubang kebocoran, lalu tambal" ya, begitulah biasanya, kalau para tukang tambal ban (yang rajin), menyelesaikan misinya. Kalau bocor adalah masalah, maka ia mencari dulu letak kebocorannya dimana, satu atau beberapa? begitupun dalam setiap masalah kita, sebaiknya kita telusuri dulu dimana akar pangkal masalahnya, baru kita tentukan penyelesaiannya.
Coba kita aplikasikan, misal masalah ...apa ya…., masalah malas bangun subuh, sudah pasang alarm, tapi masih saja telat. coba ditelusuri, sebetulnya apa penyebab induknya..? bisa jadi karena tidur terlalu larut dengan perut kenyang, berarti tidur agak awal, dan hindari kekenyangan. Tapi ada juga kok, sudah tidur awal, tetep kesiangan..?
Berarti bisa jadi akarnya adalah masalah pemahaman, shalat malam, atau shalat subuh, tak begitu berharga, konsekuensi jika telat atau bahkan tidak mengerjakannya tidak begitu merisaukan, buktinya tak terjadi apa-apa?, berarti ini masalah pemahaman, tentang keutamaan shalat malam/sahalat subuh, tentang pahala dan dosa, serta tentang syurga dan neraka. Tapi sudah tahu, kalau shalat subuh itu wajib, shalat tahajud itu luar biasa, tetep aja sudah bangun, tidur lagi…? Berarti ini masalah keimanan, hati yang keras, mata yang banyak melihat yang tak semestinya, pikiran yang sering kotor, lisan yang sering berbohong dan menggunjing, makan minum yang syubhat, dan seterusnya, amal-amal kemaksiatan, berakumulasi memberatkan diri untuk beribadah. Jadi definisikan masalahnya, cari titik pangkalnya, lalu perbaiki ..!

“udah beres belum bang ?” Tanya saya, memecah konsentrasinya.
“bentar lagi..” jawabnya, sambil memasang kembali ban belakang.
“ngomong2, abang tidur di sini juga?” sambil melihat ruangan, hampir mirip bengkel daripada kamar.
“iya “ jawabnya singkat.
“belum nikah ya bang?” ups, kenapa nanya itu, ga sopan banget.
“gimana mau nikah? hidup sendiri aja susah!” kira-kira begitulah jawabannya.
Heups, mulut menutup, ga mau memperpanjang obrolan, apalagi sok menasihati "coba aja nikah bang, siapa tau hidupnya jadi ga susah!", atau  sok pahlawan "kalau saya bantu uang buat nikah, berani ga minggu besok nikah?"
Berhenti dari obrolan, kembali menerawang..., jumlah populasi perempuan yang lebih banyak dari pada laki-laki..., data KDRT, perselingkuhan dan perceraian yang makin meningkat…, berita hamil diluar nikah yang kian marak…, banyak bayi-bayi dibunuh bahkan sebelum lahir, sebagiannya dibuang ditong sampah..., anak lahir tanpa mengetahui orang tuanya siapa?
Masalah yang benar-benar berat dan kompleks!, Sebetulnya apa sih titik pangkalnya? Apakah peningkatan jumlah kelahiran yang tak terbendung? lalu program KB di luncurkan? Saya pikir bukan itu, toh dengan anak 2, belum tentu masalah ini selesai. Atau media TV, majalah  dan internet, yang merangsang dan memperlihatkan hal-hal negatif? Ya.. bisa jadi, tapi media kan punya manfaat lain, jadi kita tak bisa menutupnya. Lalu …
"udah mas..", ucapannya membuyarkan lamunan.
"berapa bang?", tanya saya,
"40 ribu aja", jawabnya,
(apa ? “aja” !, beuh, kenapa ga ditanya sejak awal, perasaan harga wajar ga segitu deh..)
Yo wes, ikhlaskan aja..,kasian kalau ga ikhlas, nanti jadi ga berkah buat dianya. Ok, lanjutkan perjalanan.., buzz…
Kembali ke lamunan tadi, kok saya jadi berfikir, bahwa pernikahan menjadi -salah satu- titik pangkal solusinya, maksudnya, menunda menikah, apalagi sampai tidak menikah, bisa menjadi saham terciptanya masalah sosial bahkan kriminal. Betapa tidak, di tengah media yang menggila, para pemuda yang belum menikah, lengkap dengan gairah biologisnya yang sedang terik-teriknya, membuka lebar peluang kejahatan, dari mulai seks bebas, hamil diluar nikah, hingga pembunuhan bayi tak berdosa.
Di sisi lain, para perempuan yang jumlahnya berkali lipat lebih banyak dari laki-lakinya, bisa tetap produktif, jauh dari kemurungan, atau pengucilan diri dari lingkungan. Pernikahan sebagai jalur sah, tak akan melahirkan anak dengan ketidakjelasan nasab (garis keturunan), bahkan bentuk metamorfosa pernikahan, yaitu poligami -dengan berbagai pro kontranya- bisa meminimalisir perselingkuhan dan penceraian, mungkin..! (kok saya jadi sok tau gini..)
Lalu pertanyaannya, kenapa pernikahan jadi demikan angker? kenapa masih menunda nikah sih? apa titik pangkal masalahnya?
Mmhhh, ok, sekarang kita telusuri, sebenarnya dimana letak “kebocoran” nya…, bukankah pernikahan itu membahagiakan...? bukankah dulu Rasulullah saw senantiasa memotivasi sahabatnya untuk menikah?
Sebagaimana dalam riwayat Sahal bin Sa`ad ra., ia berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: Wahai Rasulullah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu. (ini mengajarkan kita, bahwa, ternyata tak masalah, kaum hawa proaktif duluan)
Lalu Rasulullah saw. memandang perempuan itu dan menaikkan pandangan serta menurunkannya kemudian beliau mengangguk-anggukkan kepala. (ini mengajarkan kita, bahwa, melihat calon suami/istri itu tak masalah)
Melihat Rasulullah saw. tidak memutuskan apa-apa terhadapnya, perempuan itu lalu duduk. Sesaat kemudian seorang sahabat beliau berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, jika engkau tidak berkenan padanya, maka kawinkanlah aku dengannya. (ini mengajarkan kita, jangan malu-malu mengungkapkan niat nikah)
Rasulullah saw. bertanya: Apakah kamu memiliki sesuatu? Sahabat itu menjawab: Demi Allah, tidak wahai Rasulullah! Beliau berkata: Pulanglah ke keluargamu dan lihatlah apakah kamu mendapatkan sesuatu? Maka pulanglah sahabat itu, lalu kembali lagi dan berkata: Demi Allah aku tidak mendapatkan sesuatu! Rasulullah saw. bersabda: Cari lagi walaupun hanya sebuah cincin besi! Lalu sahabat itu pulang dan kembali lagi seraya berkata: Demi Allah tidak ada wahai Rasulullah, walaupun sebuah cincin dari besi kecuali kain sarung milikku ini! Sahal berkata: Dia tidak mempunyai rida` (kain yang menutupi badan bagian atas). Berarti wanita tadi hanya akan mendapatkan setengah dari kain sarungnya. Rasulullah saw. bertanya: Apa yang dapat kamu perbuat dengan kain sarung milikmu ini? Jika kamu memakainya, maka wanita itu tidak memakai apa-apa. Demikian pula jika wanita itu memakainya, maka kamu tidak akan memakai apa-apa. Lelaki itu lalu duduk agak lama dan berdiri lagi sehingga terlihatlah oleh Rasulullah ia akan berpaling pergi. Rasulullah memerintahkan untuk dipanggil, lalu ketika ia datang beliau bertanya: Apakah kamu bisa membaca Alquran? Sahabat itu menjawab: Saya bisa membaca surat ini dan surat ini sambil menyebutkannya satu-persatu. Rasulullah bertanya lagi: Apakah kamu menghafalnya? Sahabat itu menjawab: Ya. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Pergilah, wanita itu telah menjadi istrimu dengan mahar mengajarkan surat Alquran yang kamu hafal." (Shahih Muslim, hadist no 2554)
Penggalan terakhir mengajarkan kita, alih-alih mempersulit, tapi Rasulullah mempermudah, dan sangat ingin sahabatnya segera menikah. bukannya mempersulit "kamu kerja di mana, berani melamar anak saya?", "belum pa.., masih bisnis kecil-kecilan",  "apa? udah pulang sana! emangnya anak saya mau dikasih makan apa?", tapi Rasulullah saw dengan mempermudahnya, menyuruh sahabat tadi memastikan, benarkah tidak ada sesuatu yang dimiliki di rumah? coba cek lagi…! Coba tanya ke anggota keluargamu, barangkali ada yang bisa membantu untuk mas kawinnya. "tidak ada ya rasul..". Rasul tak berhenti memotivasi, "ga usah yang mewah-mewah, walaupun cincin besi, ada ga?", "ga ada ya rasul, saya cuma punya sarung ini" (ya ..ampuun, ga tanggung-tanggung miskin nya, barangkali ingin menunjukan pada kita contoh ekstrim pun bisa menikah..).
Harapan pun sirna, sahabat tahu diri, dan memutuskan pergi, tapi Rasulullah saw dengan bijaknya, tak berhenti memotivasi dan membantu mencari solusi, disuruhnya ia kembali, dan akhirnya, sahabat tadi jadi menikah, dengan mas kawin hafalan surat Al-Qur’an, dan mengajarkan pada istrinya kelak.
Luar biasa! betapa Rasulullah saw, tak ingin mempersulit umatnya menikah, yang ini mentok, cari jalan lain, yang ini ga bisa, cari cara lain, supaya bisa menikah, dan sejarah mencatatnya, ketika islam sebagai rahmatan lil alamin dijalankan, bagaimana sistem perbudakan jahiliyah bisa turun drastis, bagimana masyarakat madinah yang adil sejahtera bisa terwujud, karena terbangun dari keluarga-keluarga harmonis, tak ada lagi pembunuhan bayi, kehormatan perempuan diangkat oleh islam, sehingga perzinahan, akan diganjar dengan hukuman amat berat didunia (apalagi dikhirat), hingga perceraian menjadi demikian sulit, dan rujuk demikian mudah, dan perselingkuhan amat dijauhi, lalu islam membolehkan (bukan memerintahkan) poligami.
Jadi, kapan nikah?
Wallohu’alam, mohon maaf & terimakasih
Wassalamu’alaikum wr wb

http://www.forumpembangunan.org/artikel/125-kenapa-belum-nikah-juga.html

Ya Allah, Aku Menikah...

Betapa banyak sekolah-sekolah tinggi ternama. Namun tak satu pun mengajarkan pelajaran kiat jitu persiapan-persiapan menikah, apalagi memberikan kisi-kisi cara mudah menikah. Maka tak heran jika sebuah pernikahan yang sebenarnya begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, terasa sangat awam bagi seseorang yang belum menjalaninya.
Suatu ketika seorang pemuda ditanyai oleh temannya yang sudah lama tidak berjumpa. “Apa kabarmu sekarang, lama tidak jumpa, sudah siap menikah?” Maklum, temannya itu telah lebih dahulu menikah. Setelah berpikir keras dan mengingat-ingat tentang pernikahan, akhirnya ia pun menjawab dengan malu. “Aku masih butuh waktu untuk mempersiapkan diri,” jawab pemuda itu.
Seiring berjalannya waktu, pemuda itu mulai rajin membaca buku-buku tentang pernikahan. Berkonsultasi kepada orang yang berpengalaman. Setelah saatnya tiba, ia kini merasa siap, dan menyampaikan pada orang tuanya tentang niatnya untuk menikah. Namun apa yang terjadi? Ternyata orang tuanya belum mengijinkan pemuda itu untuk menikah. “Mau kau beri makan apa istri dan anakmu, kerja saja belum pasti,” kata orang tuanya ketus. Akhirnya, pemuda itu pun menunda niatnya untuk menikah…
***
Sungguh pernikahan bukanlah perkara mudah. Sunnah Rasul yang satu ini senilai dengan separuh agama. Sungguh luar biasa bukan. Oleh karenanya, mempersiapkan pernikahan harus dilakukan secara matang. Mungkin kisah di atas tidak semua orang mengalaminya. Akan tetapi menikah itu bukan sim salabim. Dan dalam sekejap dan instan segera terlaksana.
Sampai di sini kita mulai bertanya-tanya, apakah pernikahan itu? Apakah sekadar memilih pasangan hidup yang tampan dan cantik? Apakah sekedar pelarian untuk memuaskan kebutuhan biologis? Apakah sekadar untuk mencari teman curhat permanen? Atau sekadar cobacoba? Semua itu bisa dijawab kalau kita memiliki sebuah visi yang jelas perihal pernikahan.
“Sebelum ke sana, pertama kita harus pahami menikah adalah menyambung silaturahim dua keluarga besar,” kata Ustadz Mohammad Sholeh Drehem. Menikah memang
bukan hanya bertemunya laki-laki dan perempuan. Menurut Ustadz Sholeh, sangat naif jika dalam pernikahan belum ada kesepakatan kedua belah pihak dalam artian keluarga besar. “Makanya harus ada musyawarah dahulu, libatkan semua pihak,” kata alumni Jurusan Ushul Fiqh Universitas Islam Madinah Arab Saudi ini.

Niat Baik pun Perlu Dikomunikasikan

Ketika seseorang telah siap untuk menikah, maka bicarakan dengan orang tua. Walau bagaimana pun orang tua adalah yang merawat dan membesarkan kita. Dalam hal ini, tidak semua orangtua begitu saja sependapat. Hal ini wajar, karena orang tua selalu memiliki pertimbangan dan standart tertentu. Maka tugas kita adalah memahamkan orangtua. Memberikan bukti nyata bahwa kita memang sudah siap untuk menikah.
Sebagai usatadz yang sering menjadi rujukan konsultasi keluarga, Ustadz Muhammad Sholeh Drehem menemui beraneka macam pengalaman tentang pernikahan, Ustad Sholeh menceritakan, beberapa kali menemui kasus terhambatnya pernikahan karena tidak lancarnya komunikasi. Menurut Ustadz Sholeh, pada dasarnya orangtua yang baik tidak akan memaksakan kehendak. Kalaupun itu terjadi, maka tugas seorang anak yang harus mewarnai orang tua. “Pahamkan pada orang tua tentang pemahaman Islam yang menyeluruh,” kata bapak empat putra ini. Jadi, komunikasi yang dimaksud bukan hanya ketika mau menikah, namun komunikasi yang lancar sejak jauh sebelum waktu ingin menikah. “Orangtua adalah ladang dakwah yang luar biasa, maka kewajiban seorang anak ketika mulai mengenal nilai-nilai Islam sudah harus mendakwahkan pada orang tuanya,” ujar pengasuh di berbagai kajian ini..
Proses komunikasi tentang niatan untuk menikah memang tidak dapat sama antara yang satu dengan yang lain. Usaha itu butuh waktu. Tidak bisa sehari ya satu bulan, tidak bisa satu bulan yang mungkin beberapa bulan. “Butuh perbaikan diri memang. Dan tunjukkan pada orang tua niat baik kita. Tidak ada yang instan dalam hal menikah,” kata Ketua Ikatan Dai Indonesia Jawa Timur ini.
Ustadz Sholeh mewanti-wanti, jangan sampai menikah tanpa mendapat restu dari orangtua. Betapa sakitnya orang tua, yang melahirkan dan membesarkan, kemudian saat anak sudah dewasa dan mandiri tidak melibatkan orang tua dalam proses pernikahan. “Ini mengkhianati orang tua, menzalimi orang tua,” tegas suami Ustadzah Maryam ini.
Persiapan Ilmu Tentang Pernikahan Banyak orang yang bingung ketika menghadapi pernikahan. Ada yang sibuk mempersiapkan pernakpernik pernikahan dan pesta pernikahan, tetapi lupa mempersiapkan ilmu, mental dan spiritual dalam menjalaninya. Meskipun setiap orang tahu bahwa pernikahan adalah ibadah, menggenapkan setengah agama, tetapi karena kesibukan persiapan perlengkapan nikah dan pestanya sering membuat nuansa ibadah dalam pernikahan tersebut terlupakan.
Ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan menjelang pernikahan, yaitu persiapan ilmu tentang pernikahan, persiapan mental/psikologis dalam menghadapi pernikahan, persiapan ruhiyyah menjelang pernikahan serta persiapan fisik sebelum menikah.
Hal yang perlu dipersiapkan adalah memperjelas visi pernikahan. Untuk apa kita menikah. Visi yang jelas dan juga sama antara calon suami dan isteri insya Allah akan melanggengkan pernikahan. Banyak orang yang menikah hanya karena cinta, atau mengikuti tradisi masyarakat. Bisa juga karena malu karena sudah cukup umur tetapi masih belum juga menuju pelaminan. Alasan-alasan seperti ini tidak memiliki akar yang jelas. Bisa juga menjadi sangat rapuh ketika memasuki bahtera rumah tangga, dan akhirnya hancur ketika badai rumah tangga datang menerjang.
Sebagai muslim yang memiliki rujukan hidup yang jelas, tentu kita tahu bahwa menikah itu karena ibadah. Visi pernikahan dalam Islam adalah menimba banyak pahala melalui aktivitas berumah tangga. Menjauhkan diri dan keluarga dari api neraka, dan akhirnya berusaha meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Bila seseorang memiki
visi seperti ini insya Allah hari-hari yang dilaluinya setelah menikah akan berusaha dihadapi sesuai dengan hukumhukum Islam.
Ilmu yang lain yang harus diketahui adalah tentang hukum-hukum pernikahan. Seperti tentang rukun nikah, yaitu mempelai pria dan wanita, dua orang saksi, wali dari pihak perempuan dan ijab kabul. Bila sudah terpenuhi semuanya, insya Allah pernikahan menjadi sah secara agama.
Lalu kewajiban memberi mahar sesuai yang diminta oleh pihak wanita. Lalu masalah walimatul ursy (pesta pernikahan). Tradisi-tradisi daerah bukanlah hal yang wajib untuk dilakukan. Bahkan sebisa mungkin dihindari tradisi yang bertentangan dengan aqidah Islam. Lalu juga mempermudah semua proses pernikahan adalah lebih utama. Juga menyederhanakan pesta pernikahan, tidak bermewah-mewah lebih baik dalam pandangan Islam.

Persiapan Mental

Pernikahan adalah kehidupan baru yang sangat jauh berbeda dari masa-masa sebelumnya. Dalam pernikahan berkumpul dua pribadi yang berbeda yang berasal dari keluarga yang memiliki kebiasaan yang berbeda. Didalamnya terbuka semua sifat-sifat asli masing-masing. Mempersiapkan diri untuk berlapang dada menghadapi segala kekurangan pasangan adalah hal yang mutlak diperlukan. Begitu juga cara-cara mengkomunikasikan pikiran dan perasan kita dengan baik kepada pasangan juga perlu diperhatikan, agar emosi negatif tidak mewarnai rumah tangga kita.
Di dalam pernikahan juga diperlukan rasa tanggung jawab untuk untuk memenuhi hak dan kewajiban masing-masing. Sehingga setiap anggota keluarga tidak hanya menuntut hak-haknya saja, tetapi berusaha untuk lebih dulu memenuhi kewajibannya.
Pernikahan merupakan perwujudan dari tim kehidupan kita untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu kerja sama, saling mendukung dalam segala hal sangat diperlukan. Termasuk dalam pendidikan anak. Pernikahan juga merupakan sarana untuk terus menerus belajar tentang kehidupan. Ketika memasuki dunia perkawinan seseorang belajar untuk menjadi bagian dari tim kehidupan. Ketika memiliki anak seseorang belajar untuk mendidik anak dengan cara yang baik. Tidak jarang juga orang tua perlu memaksa diri untuk merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya agar tidak ditiru oleh anak. Ketika anak-anak menjelang dewasa orang tua belajar untuk menjadikan anak-anaknya sebagai teman, sebagai bagian dari tim kehidupan yang aktif menggerakkan roda kehidupan, dan seterusnya.

Seri Tausiah ...
http://ayozakat.org/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=37&Itemid=72

Kamis, 18 Agustus 2011

Tiga hal yang diujikan


Rasulullah bersabda; “ Sesungguhnya hati manusia yang mencintai dunia pasti tidak akan tenang, karena ia selalu dirisaukan oleh tiga hal :
1.    Kesibukan yang tidak pernah dapat diketahui akhirnya
2.    Perasaan miskin (kekurangan) yang tidakakan pernah ada habisnya
3.    Angan-angan yang tidak akan pernah ada ujungnya

Sesungguhnya dunia dan akherat itu sedang mencari dan sedang dicari. Maka orang yang mencari akhirat, pastilah dunia akan mencarinya sampai semua jatah rezekinya genap sempurna ia terima. Begitu pula orang yang terus mengejar dunia, akhirat pasti akan mencarinya hingga kematian menjemputnya.

Ketahuilah, orang yang beruntung adalah orang yang selalu memilih sesuatu yang kekal kenikmatannya. Dan akan mengesampingkan sesuatu yang fana yang azabnya tidak kunjung usai. Dia juga akan menginfakkan hartanya untuk jangka panjang dari sebagian apa yang kini sudah ada di tangannya, sebelum ia digantikan oleh seseorang yang beruntung disebabkan infak yang telah dikeluarkannya. Dan sungguh celakalah orang-orang yang gemar menumpuk-numpuk kekayaan dan menimbunnya”. (dari Ibnu Abbas)
Renungan Jumat pagi